Monday, February 9, 2026
spot_img

Kerja di Cafe, Laptopan, dan Cara Kita Menyesuaikan Diri


Ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul dalam obrolan santai. Kadang datang dari teman, kadang lewat pesan singkat. Pertanyaannya hampir selalu sama. Cafe mana yang enak buat kerja. Cafe mana yang nyaman buat laptopan.

Dulu aku menjawabnya dengan cepat. Menyebut satu dua nama tempat, lalu selesai. Belakangan aku justru sering berhenti sebentar sebelum menjawab. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena aku mulai merasa pertanyaan itu jarang benar-benar tentang cafe. Lebih sering, orang sedang mencari rasa nyaman.

Dan rasa nyaman itu jarang punya satu alamat.

Kenyamanan Tidak Selalu Hadir dalam Bentuk yang Sama

Aku menyadari hal ini dari kebiasaanku sendiri saat kerja di cafe. Ada hari-hari ketika aku datang dengan laptop computer di tas dan daftar pekerjaan di kepala. Di hari seperti itu, aku tidak mencari dekorasi paling estetik atau kopi paling unik. Aku hanya ingin duduk, membuka laptop computer, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa banyak gangguan.

Hal-hal kecil jadi penentu. Kursi yang tidak membuat cepat pegal. Meja yang cukup luas. WiFi yang stabil. Colokan yang mudah dijangkau. Dan suasana yang membantu fokus. Tidak harus sunyi, tapi cukup tenang untuk berpikir.

Masalahnya, tidak semua cafe terasa seperti itu. Dulu aku sering kecewa ketika menemukan tempat yang tidak mendukung kerja panjang. Sekarang aku melihatnya dengan cara berbeda. Aku berhenti menganggapnya sebagai kekurangan.

Ketika Harapan dan Ritme Cafe Tidak Bertemu

Di waktu lain, aku justru datang ke kedai yang sama sekali tidak cocok untuk bekerja serius. Tempatnya kecil, musiknya terdengar jelas, dan orang-orang datang dan pergi dengan cepat. Aku datang tanpa niat membuka laptop computer lama-lama. Aku datang karena ingin bersosialisasi.

Aku memilih kedai yang baristanya sudah aku kenal. Obrolan mengalir ringan di sela-sela seduhan kopi. Minuman dan makanan terasa lebih nikmat ketika aku menikmatinya sambil berbincang. Di situ aku juga merasa nyaman. Dengan cara yang sama sekali berbeda.

Dari dua pengalaman ini, aku belajar satu hal penting. Kenyamanan tidak selalu hadir dalam satu bentuk. Tidak semua ruang perlu memenuhi semua kebutuhan sekaligus.

Setiap cafe berjalan dengan ritmenya sendiri. Pemilik merancang ruang, suasana, dan pengalaman dengan tujuan tertentu. Ada tempat yang memang membuka ruang bagi orang untuk duduk lama dan bekerja dengan tenang. Ada juga tempat yang sengaja menghadirkan suasana hidup untuk bertemu dan berbincang. Aku tidak melihat yang satu lebih benar dari yang lain. Aku hanya melihat kecocokan.

Masalah sering muncul ketika aku datang dengan harapan tertentu, sementara ruang itu berjalan dengan caranya sendiri. Aku berharap tenang, tapi datang di jam ramai. Aku ingin fokus, tapi suasana sekitar justru mengajak ngobrol. Dari situ rasa tidak nyaman biasanya muncul.

Belajar Menyesuaikan Diri Saat Laptopan di Cafe

Di titik itu, aku dulu sering menyalahkan tempat. Sekarang aku belajar menoleh ke dalam dan melihat ekspektasiku sendiri.

Belakangan ini, sebelum memilih tempat untuk laptopan di cafe, aku bertanya ke diri sendiri. Hari ini aku ingin fokus atau santai. Aku datang untuk bekerja atau sekadar menikmati waktu. Pertanyaan sederhana ini membantu menurunkan harapan yang tidak perlu.

Ketika suasana terasa kurang cocok, aku tidak lagi memaksakan diri. Aku memilih pindah tanpa rasa kesal. Aku tidak menganggapnya sebagai kegagalan menemukan tempat yang tepat. Aku melihatnya sebagai bagian dari menyesuaikan diri. Tidak semua ruang harus cocok setiap waktu.

Aku juga mulai lebih sadar tentang caraku menggunakan ruang. Kalau aku laptopan cukup lama, aku memesan lagi. Aku mengambil meja secukupnya. Aku menjaga suara agar tidak mengganggu orang lain. Aku melakukannya bukan karena ada aturan tertulis, melainkan karena aku berbagi ruang dengan orang lain.

Biar enak sama enak.

Dari semua pengalaman itu, aku sampai pada satu kesimpulan sederhana. Cafe bukan coworking free of charge. Tapi pengunjung juga bukan beban. Di antara dua hal itu, ada ruang yang bisa terasa nyaman.

Kenyamanan tidak muncul karena satu pihak mengalah. Ia muncul ketika dua-duanya saling menyesuaikan. Ketika aku datang dengan harapan yang lebih jujur dan sikap yang lebih tenang.

Mungkin kenyamanan memang tidak selalu bisa kita cari. Kadang ia tumbuh pelan-pelan, saat kita berhenti menuntut dan mulai memahami. Dan ketika itu terjadi, ruang yang biasa saja pun bisa terasa cukup.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest Articles