“Kritik konsumen tidak selalu menjadi serangan terhadap sebuah model. Kadang, kritik justru memberikan informasi paling jujur tentang pengalaman yang perlu diperbaiki.”
Kalimat itu baru saja saya sampaikan ketika mata mulai terasa berat.
Saya berkedip beberapa kali, membetulkan posisi kacamata, lalu kembali melihat materi di layar. Di hadapan saya, lebih dari 50 mahasiswa masih mengikuti penjelasan. Seorang mahasiswa kemudian mengangkat tangan dan bertanya lebih jauh tentang cara sebuah model menghadapi kritik konsumennya.

Pertanyaan itu membuat suasana semakin hidup. Saya memang paling menikmati bagian ketika peserta mulai menanggapi materi dan menghubungkannya dengan persoalan nyata. Dari respons mereka, saya melihat bahwa materi tersebut tidak hanya didengar, tetapi juga benar-benar dipikirkan.
Meski fokus pada layar mulai membutuhkan usaha lebih, sesi tetap saya lanjutkan. Saya menjaga intonasi, menatap peserta, dan menyusun jawaban agar mudah mereka ikuti. Waktu jeda tidak lama lagi. Setelah itu, pikir saya, mata bisa beristirahat sejenak.
Saat itu, saya belum mengaitkan rasa lelah dan berat tersebut dengan gejala mata kering yang sering dianggap sepele. Saya menganggapnya sebagai rasa tidak nyaman yang bisa ditahan sampai sesi selesai.
Kembali ke Almamater untuk Berbagi tentang Komunikasi Model

Sesi itu terasa lebih private daripada undangan mengisi acara biasa. Setelah cukup lama meninggalkan bangku kuliah, akhirnya saya kembali ke kampus yang dahulu menjadi tempat belajar.
Ketika masuk ke aula itu, saya langsung teringat pada pertama kali menginjakkan kaki di ruangan yang sama. Waktu itu saya tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian akan kembali ke aula yang sama dalam posisi berbeda. Kali ini saya bukan lagi orang yang duduk di antara peserta, tetapi berdiri di depan ruangan untuk membagikan pengalaman kepada puluhan mahasiswa.
Rasanya agak berbeda. Sejak lama, saya membayangkan bagaimana rasanya kembali ke almamater, bukan lagi sebagai mahasiswa, tetapi sebagai orang yang datang membawa pengalaman untuk dibagikan. Kesempatan itu akhirnya datang ketika saya diminta mengisi sesi sharing di kampus.
Itulah yang membuat saya ingin mempersiapkan sesi tersebut sebaik mungkin. Saya tidak ingin hanya datang sebagai alumni, menyelesaikan presentasi, lalu pulang. Saya berharap ada sesuatu dari pengalaman itu yang masih mereka ingat setelah kegiatan selesai.

Topiknya pun dekat dengan pekerjaan yang selama ini saya jalani. Saya memilih membahas bagaimana sebuah model berkomunikasi dengan konsumennya, termasuk ketika menerima kritik. Saya ingin para mahasiswa melihat bahwa komunikasi yang baik tidak berhenti pada kata-kata. Model juga perlu mengambil tindakan ketika konsumen menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki.
Selama kurang lebih tujuh hari, saya meninjau beberapa contoh kasus, mengubah susunan materi, dan mencari cara agar penjelasannya mudah dipahami. Beberapa istilah yang terasa terlalu teknis saya sederhanakan, sementara contoh yang terlalu jauh saya ganti dengan kasus yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kalau dipikir-pikir sekarang, sebagian revisi itu mungkin sebenarnya sudah tidak terlalu perlu. Namun, saat itu rasanya masih ada saja bagian yang ingin diperbaiki. Satu kalimat diganti, satu contoh ditambahkan, lalu keseluruhan slide kembali diperiksa.

Pada akhirnya, saya datang ke aula itu dengan materi yang sudah berkali-kali saya periksa dan dengan harapan sederhana bahwa pengalaman yang saya bawa bisa memberi sesuatu kepada mereka.
Saya belum tahu bahwa beberapa saat kemudian, justru tubuh saya sendiri yang mulai meminta perhatian.
Kritik Konsumen dan Pentingnya Model Mendengarkan Masukan

Interaksi semakin terasa ketika pembahasan masuk ke cara model menerima masukan. Menurut saya, komunikasi yang baik tidak cukup hanya membuat model terdengar peduli. Model juga perlu berani mendengarkan ketika konsumen menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Untuk menjelaskannya, saya membawakan contoh sebuah model perawatan kulit lokal yang pernah menerima keluhan mengenai kemasannya. Secara visible, kemasan itu terlihat fashionable. Namun, ketika isinya hampir habis, sebagian konsumen kesulitan mengeluarkan produk yang masih tertinggal. Masalahnya tampak kecil, tetapi cukup mengganggu pengalaman mereka menggunakan produk sampai akhir.
Model tersebut kemudian mengganti kemasan lamanya dengan sistem airless pump, yaitu kemasan pompa yang membantu mendorong isi produk agar lebih mudah keluar. Bagi saya, tindakan itu menunjukkan bahwa model tidak sekadar membaca komentar. Mereka memahami keluhannya, lalu memperbaiki kemasan agar lebih mudah digunakan.
Contoh tersebut memancing pertanyaan dari seorang mahasiswa. Ia ingin mengetahui bagaimana sebuah model dapat membedakan kritik yang perlu ditindaklanjuti dari komentar yang hanya mencerminkan selera pribadi.

Saya menjawab bahwa model perlu melihat polanya. Satu komentar mungkin hanya mewakili pengalaman pribadi, tetapi keluhan serupa yang terus muncul dapat menunjukkan adanya masalah pada produk atau cara penggunaannya.
Sambil menjelaskan hal itu, pandangan saya kembali beralih ke layar untuk memastikan poin berikutnya. Rasa berat pada mata muncul lagi. Saya berkedip beberapa kali dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mengembalikan fokus. Setelah itu saya kembali melihat peserta dan melanjutkan penjelasan.
Saat itu saya masih berpikir bahwa rasa tidak nyaman tersebut bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jeda sudah semakin dekat. Saya hanya perlu menyelesaikan sesi, kemudian membiarkan mata beristirahat.
Gejala Mata Kering Mulai Terasa Saat Presentasi
Rasa berat itu sebenarnya tidak muncul begitu saja. Selama masa persiapan, perhatian saya terus berpindah antara laptop computer dan ponsel. Saya membaca presentasi berulang kali, mencari contoh baru, memperbaiki susunan kalimat, lalu memeriksa kembali keseluruhan alurnya.
Setiap menemukan bagian materi presentasi yang terasa kurang kuat, ponsel kembali saya buka untuk mencari referensi tambahan. Setelah menemukan sesuatu yang sesuai, saya memindahkannya ke laptop computer dan menyesuaikannya dengan materi. Begitu terus selama beberapa hari tanpa benar-benar memperhatikan berapa lama mata berpindah dari satu layar ke layar lainnya.

Belakangan, saya baru membaca sebuah tinjauan ilmiah mengenai penggunaan layar digital dan hubungannya dengan gejala mata kering. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan layar yang lebih panjang berkaitan dengan meningkatnya keluhan mata kering. Ketika terlalu fokus menatap layar, seseorang juga cenderung berkedip lebih jarang atau tidak sempurna. Penjelasan itu terasa dekat dengan kebiasaan saya selama menyiapkan materi yang hampir terus berpindah antara laptop computer dan ponsel.
Saya tentu tidak bisa memastikan rasa berat yang muncul saat itu hanya disebabkan oleh mata kering. Namun, setelah beberapa hari cukup intens menggunakan laptop computer dan ponsel, saya mulai memahami mengapa mata terasa lebih cepat lelah ketika sesi berlangsung.

Pada hari kegiatan, pandangan saya terus berpindah antara slide dan peserta. Saya perlu memastikan urutan pembahasan, melihat siapa yang mengangkat tangan, membaca ekspresi mahasiswa, dan menjaga kontak mata ketika menjawab pertanyaan.
Memasuki pertengahan sesi, rasa sepet dan perih mulai terasa lebih jelas. Saya tetap melanjutkan penjelasan karena tidak ingin kehilangan alur di tengah sesi. Fokus masih bisa dipertahankan, tetapi tidak lagi senyaman ketika kegiatan baru dimulai. Beberapa kali saya mengalihkan pandangan dari layar dan berkedip lebih sering, berharap rasa tidak nyaman itu berkurang.
Ada satu-dua momen ketika saya membaca kembali poin pada slide yang sebenarnya sudah sangat acquainted. Bukan karena lupa materinya, tetapi sekadar memastikan saya tidak salah melanjutkan pembahasan.
Saat mata mulai tidak nyaman, membaca slide yang biasanya terasa sederhana pun membutuhkan perhatian lebih. Saya masih bisa mengikuti materi dan menjawab pertanyaan peserta, tetapi saya mulai menyadari bahwa mempertahankan fokus membutuhkan usaha yang lebih besar.
Namun, sesi masih berlangsung dan saya tetap ingin memberikan yang terbaik di almamater. Selama materi masih terbaca dan pertanyaan peserta masih bisa dijawab, rasa tidak nyaman itu terasa belum cukup besar untuk membuat saya berhenti.

Tanpa disadari, cara saya membawakan materi mulai sedikit berubah. Saya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menyusun jawaban dan mulai lebih mengandalkan slide agar alurnya tetap terjaga. Dari kursi peserta, perubahan itu mungkin hampir tidak terlihat.
Justru di situlah rasa tidak nyaman pada mata menjadi mudah disepelekan. Aktivitas masih bisa diteruskan, tetapi sebagian perhatian saya mulai habis hanya untuk menjaga fokus.
Yang membuatnya mudah diabaikan justru karena saya masih bisa melakukan semuanya. Saya masih berdiri di depan peserta, masih menjawab pertanyaan, dan masih mengetahui bagian materi berikutnya. Tidak ada sesuatu yang cukup dramatis untuk membuat sesi harus berhenti. Dalam kepala saya, selama masih sanggup melanjutkan, berarti belum ada masalah yang benar-benar perlu diperhatikan.
Pikiran itu membuat saya terus menunda. Nanti saja ketika jeda. Nanti saja setelah sesi selesai. Toh, saya masih bisa melanjutkan.
Sebuah Kritik yang Justru Berbalik kepada Diri Sendiri
Di tengah kondisi itu, pembahasan berlanjut pada cara model merespons kritik. Menurut saya, respons pertama sering menentukan bagaimana hubungan antara model dan konsumennya berlanjut.
Sebuah model bisa saja langsung membela diri, menyalahkan pengguna, atau menganggap keluhan tersebut tidak mewakili mayoritas konsumen. Sikap defensif seperti itu membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memahami masalah yang sebenarnya terjadi.

Di depan peserta, saya menjelaskan bahwa model perlu berhenti sejenak, mendengarkan, lalu mencari sumber persoalan. Cara konsumen menyampaikan kritik perlu dipisahkan dari pengalaman yang sebenarnya sedang mereka keluhkan. Model juga tidak perlu menunggu sampai keluhan kecil berkembang menjadi ketidakpercayaan.
Menjelang akhir jawaban, pandangan saya kembali mengarah ke slide. Tangan saya sekali lagi menyentuh bingkai kacamata. Ketika merangkum inti jawaban itu, saya mulai menyadari ada sesuatu yang terasa janggal.
Saya baru saja mengatakan kepada mahasiswa bahwa model tidak seharusnya menunggu keluhan menjadi besar sebelum mengambil tindakan. Kalimat itu terdengar biasa ketika keluar dari mulut saya. Beberapa detik kemudian, saya justru merasa seperti sedang menegur diri sendiri.
Sejak awal sesi, mata sudah beberapa kali memberi tanda. Terasa berat, mulai sepet, sesekali perih, dan membutuhkan usaha lebih besar untuk mempertahankan fokus. Namun, setiap kali tanda itu muncul, respons saya selalu sama. Nanti saja. Toh, saya masih bisa melanjutkan.
Di situlah ironi itu terasa.
Saya meminta model mendengarkan keluhan kecil sebelum berubah menjadi masalah yang lebih besar, tetapi saya sendiri menunggu tubuh berbicara lebih keras sebelum merasa perlu mendengarkannya.

Untuk pertama kalinya selama sesi itu, persoalannya bukan lagi apakah saya masih sanggup menyelesaikan presentasi. Saya mulai bertanya mengapa harus menunggu sampai mata benar-benar mengganggu aktivitas sebelum memberinya perhatian.
Pertanyaan itu tidak langsung mengubah keadaan. Sesi masih harus dilanjutkan dan rasa tidak nyaman pada mata juga belum hilang. Namun, setidaknya sejak titik itu saya tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang cukup dijawab dengan, “nanti saja.”

Saya juga meminta model untuk mencari sumber masalah sebelum mengambil kesimpulan. Namun, setiap kali pandangan mulai terasa kurang nyaman, alasan yang paling mudah justru lebih dulu muncul. Posisi kacamata sempat saya salahkan, begitu juga waktu yang terlalu lama di depan layar atau sekadar rasa lelah.
Saya datang untuk menjelaskan bagaimana sebuah model seharusnya menerima kritik. Tanpa disadari, sepanjang sesi itu justru muncul pelajaran lain bahwa mendengarkan tidak hanya berlaku ketika seseorang menyampaikan keluhan kepada kita. Kadang, tubuh sendiri sudah memberikan tanda, tetapi kita memilih menundanya karena merasa masih sanggup melanjutkan.
Mengenali Gejala Mata Kering yang Sempat Saya Abaikan
Sejak menyadari hal itu, rasa berat pada mata tidak lagi saya lihat sebagai gangguan biasa selama presentasi. Saya mulai mengingat tanda-tanda yang sebelumnya terasa kecil. Mata lebih cepat lelah, terasa sepet dan perih, sementara fokus pada layar tidak lagi senyaman ketika sesi baru dimulai. Ternyata, mata SEpet, PErih, dan LElah seperti inilah yang selama ini mudah saya anggap SePeLe.

Masalahnya, saya sudah merasakan beberapa tanda tersebut sejak awal. Saya hanya belum menganggapnya cukup penting untuk mendapat perhatian. Selama masih bisa membaca slide, berbicara, dan menjawab pertanyaan, saya merasa belum memiliki alasan untuk berhenti.
Padahal, kemampuan untuk terus beraktivitas tidak selalu berarti mata sedang nyaman. Justru sinyal kecil itulah yang selama ini mudah saya sepelekan.
Di titik itu saya mulai memahami bahwa menyadari sebuah keluhan belum tentu berarti benar-benar mendengarkannya. Saya sudah tahu mata terasa tidak nyaman, tetapi belum benar-benar memberinya kesempatan untuk beristirahat.
Mata tidak harus membuat seluruh aktivitas berhenti sebelum layak mendapat perhatian. Sinyalnya justru bisa muncul ketika kita masih merasa sanggup melakukan semuanya seperti biasa.
Memberi Jeda Saat Mata Mulai Tidak Nyaman

Tak lama kemudian, panitia memberikan waktu jeda. Saya duduk dan menutup laptop computer, lalu membiarkan ponsel tetap tersimpan meskipun masih ada beberapa hal yang sebenarnya bisa diperiksa.
Pada jeda itulah saya menggunakan INSTO DRY EYES yang saya bawa sesuai petunjuk pemakaian. Saya sebenarnya sudah mengenal INSTO DRY EYES sebelum acara di kampus. Pertama kali menemukannya saat mampir ke Indomaret karena mata sedang terasa sepet. Saya mencari tetes mata untuk keluhan itu, lalu kasir menyarankan INSTO DRY EYES yang kini hadir dengan kemasan baru. Sejak itu, saya memilih membawanya saat datang ke kampus. Tampilannya cukup mudah dikenali, meski saat itu perhatian saya tentu bukan pada kemasannya. Mata yang sejak tadi terasa sepet, perih, dan lelah lebih dulu meminta perhatian.
INSTO DRY EYES mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg yang berfungsi sebagai pelumas mata untuk membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata.

Setelah menggunakan INSTO DRY EYES dan memberi mata waktu untuk beristirahat, mata terasa lebih ringan dan fokus kembali terasa lebih nyaman. Saya juga tidak langsung membuka layar. Waktu jeda itu benar-benar saya gunakan untuk mengistirahatkan mata.
Saat sesi dimulai lagi, saya lebih jarang melihat slide dan lebih banyak mengandalkan ingatan serta pengalaman. Cara membawakan materi pun terasa lebih lepas. Saya tidak lagi merasa harus memastikan setiap kalimat sama persis dengan tulisan pada layar. Selama inti pembahasannya tersampaikan, contoh dan pengalaman yang sudah disiapkan cukup membantu menjaga alur.
Ketika ada mahasiswa yang kembali mengangkat tangan, perhatian saya lebih banyak tertuju kepadanya daripada layar di belakang. Saya mendengarkan pertanyaannya, melihat respons peserta lain, lalu menjawab tanpa terlalu sering mengecek slide.

Mata membantu saya membaca ruangan, bukan hanya membaca slide. Dengan mata yang nyaman, saya lebih mudah melihat mahasiswa yang mengangguk, menangkap tangan yang terangkat, dan menjaga kontak mata ketika menjawab.
Beberapa mahasiswa masih ingin melanjutkan pertanyaan setelah acara berakhir. Bagi saya, itu menjadi tanda bahwa pembahasan hari itu benar-benar meninggalkan sesuatu untuk mereka.
Jeda singkat hari itu juga membuat saya melihat waktu istirahat dengan cara berbeda. Tidak semua waktu kosong harus diisi dengan mengecek pesan, membuka ponsel, atau memastikan materi sekali lagi. Kadang, memang perlu berhenti sebentar.
Cara Mempersiapkan Presentasi Tanpa Mengabaikan Kesehatan Mata

Sepulang dari kampus, beberapa pertanyaan masih terbayang. Berapa banyak waktu istirahat yang selama ini saya abaikan? Berapa kali saya justru mengisi jeda dengan membuka ponsel? Berapa sering tubuh memberi tanda, tetapi baru saya perhatikan ketika rasa tidak nyaman mulai mengganggu?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya memikirkan kembali kebiasaan selama menyiapkan sebuah kegiatan.
Selama ini saya selalu memeriksa laptop computer, catatan, dan susunan slide sebelum kegiatan. Kondisi mata hampir tidak pernah mendapat perhatian yang sama. Sekarang saya mulai mengurangi revisi yang sebenarnya sudah tidak mendesak. Tidak semua kalimat harus terus diperbaiki sampai menjelang acara. Ada titik ketika materi memang perlu dianggap cukup.
Ketika harus bekerja cukup lama di depan perangkat, saya mulai lebih memperhatikan pencahayaan, posisi layar, dan memastikan hembusan pendingin udara tidak langsung mengarah ke wajah. Selain itu, saya juga mulai disiplin menerapkan metode 20-20-20 yang direkomendasikan oleh Kemenkes RI. Setiap 20 menit menatap layar laptop computer, saya mengambil jeda selama 20 detik untuk mengistirahatkan mata dengan memandang objek berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter).


Saat memungkinkan, saya juga menyiapkan catatan singkat agar penjelasan tidak selalu bergantung pada tulisan di layar. Dengan begitu, saya cukup mengingat urutan pembahasan tanpa harus berulang kali melihat presentasi.
INSTO DRY EYES tetap saya bawa agar dapat digunakan sesuai petunjuk ketika gejala mata kering muncul.

Saya juga tidak menganggap semua keluhan pada mata otomatis sebagai mata kering. Jika rasa tidak nyaman menetap, memburuk, atau sampai mengganggu penglihatan, saya akan memeriksakannya kepada tenaga kesehatan.
Sekarang, ketika mata mulai terasa tidak nyaman, saya berusaha tidak langsung mengabaikannya. Kadang cukup dengan berhenti melihat layar sebentar, memberi waktu untuk beristirahat, lalu melihat kembali apa yang mungkin membuat mata bekerja terlalu lama.
Pelajaran dari Mata yang Sempat Saya Abaikan

Kalau mengingat kembali sesi di kampus itu, saya datang untuk membagikan pengetahuan mengenai pentingnya model mendengarkan konsumen. Saya sudah menyiapkan contoh kasus, menyusun pembahasan, dan memperkirakan pertanyaan yang mungkin muncul. Namun, pelajaran paling private justru tidak terdapat di dalam slide.
Pertanyaan mahasiswa hari itu membuat saya pulang dengan pertanyaan yang jauh lebih private.
Apakah saya sudah menjadi pendengar yang baik bagi mata sendiri?

Jawabannya saat itu mungkin belum. Sepanjang sesi, saya memakai ukuran yang sangat sederhana. Selama slide masih terbaca, pertanyaan masih bisa dijawab, dan presentasi masih bisa dilanjutkan, saya menganggap semuanya baik-baik saja.
Pengalaman itu mengubah cara saya melihatnya. Saya tidak perlu menunggu sampai mata membuat aktivitas berhenti untuk mulai mendengarkannya.
Saya jadi lebih paham mengapa gejala mata kering tidak sebaiknya dianggap sepele. Pesan #MataSePeLeJanganSepelein pun terasa lebih private buat saya. Saya belajar mengenali perubahan, memberi mata waktu beristirahat, dan menggunakan #InstoDryEyes sesuai petunjuk ketika gejalanya muncul. Bagi saya, #BebasMataKering akhirnya bukan sekadar soal menggunakan tetes mata, tetapi juga belajar memberi mata jeda ketika mulai terasa tidak nyaman.

Kritik tidak selalu datang melalui kolom komentar. Kadang, kritik datang dari mata yang tetap berusaha mengikuti aktivitas, lalu menunggu apakah kita bersedia mendengarkannya.
Buat saya, pelajarannya sederhana. Jangan tunggu sampai mata benar-benar mengganggu aktivitas untuk mulai memberi perhatian. Kenali sinyalnya, beri jeda ketika dibutuhkan, dan gunakan INSTO DRY EYES sesuai petunjuk ketika gejala mata kering muncul.
Sumber Referensi
- Al-Mohtaseb, Z., Schachter, S., Lee, B. S., Garlich, J., dan Trattler, W. (2021). The Relationship Between Dry Eye Illness and Digital Display Use.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Mata Lelah dengan Metode 20-20-20.
- INSTO Indonesia, Informasi Resmi INSTO Dry Eyes.
- INSTO Indonesia, Pahami Mata Kering dan Cara Mengatasinya.


