
Beberapa tahun lalu, saat sebuah tempat mulai ramai dibicarakan, orang biasanya ikut penasaran. Semakin viral sebuah cafe, makanan, movie, atau model, semakin besar rasa ingin mencoba. Antrean panjang bahkan sering dianggap sebagai tanda bahwa tempat itu memang layak didatangi. Viral terasa identik dengan sesuatu yang menarik, sehingga orang datang dengan rasa ingin tahu yang masih cukup utuh.
Sekarang polanya terasa berbeda. Sebuah tempat bisa viral dalam hitungan hari, lalu tidak butuh waktu lama sampai muncul komentar seperti “overrated”, “biasa aja”, “cuma menang hype”, atau “ternyata tidak se-wow itu.” Komentar seperti ini muncul sangat cepat, kadang ketika tempatnya baru beberapa minggu ramai. Ada orang yang baru sekali datang lalu langsung memberi label overrated. Ada juga yang belum sempat mencoba, tetapi sudah merasa bosan hanya karena terlalu sering melihat tempat itu lewat di timeline.
Fenomena ini menarik karena web membuat orang jauh lebih cepat kagum, tetapi juga jauh lebih cepat lelah terhadap sesuatu yang ramai dibicarakan. Kita melihat terlalu banyak hal dalam waktu yang terlalu singkat. Sesuatu belum selesai dinikmati, publik sudah sibuk mencari hal baru berikutnya.
Kita Melihat Sesuatu Terlalu Banyak Sebelum Mengalaminya

Dulu orang datang ke sebuah tempat dengan rasa penasaran yang masih utuh. Mereka belum tahu interiornya seperti apa, belum hafal menu favoritnya, dan belum melihat sudut foto yang paling sering dipakai orang lain. Ada ruang untuk terkejut, menemukan, dan membentuk kesan sendiri dari pengalaman langsung.
Sekarang, sebelum datang ke sebuah tempat viral, kita biasanya sudah melihat puluhan bahkan ratusan konten tentang tempat itu. Kita sudah tahu menu yang paling sering dipesan, spot foto yang paling ramai, suasana antreannya, bahkan ekspresi orang saat mencoba makanan atau minuman di sana. Saat akhirnya datang langsung, pengalaman itu tidak lagi terasa sepenuhnya baru. Kita seperti sedang melihat versi nyata dari sesuatu yang sudah berkali-kali lewat di layar.
Rasa kagum jadi lebih sulit muncul ketika rasa penasaran sudah habis lebih dulu. Tempatnya bisa saja bagus, makanannya bisa saja enak, tetapi pengalaman langsung terasa kurang mengejutkan karena kita sudah terlalu banyak melihatnya sebelum benar-benar mengalaminya.
Hype di Web Bergerak Sangat Cepat

Media sosial membuat satu hal bisa terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Satu video TikTok bisa mengubah sebuah tempat yang awalnya biasa saja menjadi penuh antrean hanya dalam beberapa hari. Creator datang bergantian, semua orang membuat video dengan angle yang hampir sama, lalu timeline penuh dengan tempat yang sama selama berminggu-minggu.
Perhatian publik di web bergerak sangat cepat. Hari ini semua orang membicarakan satu espresso store, minggu depan muncul tempat lain yang lebih baru, lalu setelah itu muncul tren lain lagi. Ritmenya terus bergerak tanpa benar-benar memberi waktu untuk menikmati sesuatu dengan tenang. Saat satu hal muncul terlalu sering dalam waktu singkat, publik mulai merasa lelah melihatnya. Tempatnya mungkin masih bagus, produknya mungkin masih enak, tetapi paparan yang terlalu terus-menerus membuat orang kehilangan rasa penasaran.
Overexposure Membuat Sesuatu Kehilangan Rasa Spesial

Sesuatu sering terasa menarik saat belum terlalu banyak diketahui orang. Rasa penasaran tumbuh dari jarak. Orang menikmati proses menemukan sesuatu sebelum semua orang lain ikut datang, mencoba, dan mengunggah pengalaman yang sama.
Begitu satu tempat mulai muncul di semua platform, diposting banyak creator, masuk ke berbagai rekomendasi FYP, lalu dibahas terus-menerus, rasa eksklusifnya perlahan hilang. Tempat itu mulai terasa terlalu umum. Fenomena ini sering terjadi di period media sosial. Sesuatu tidak kehilangan daya tarik karena kualitasnya berubah buruk, tetapi karena terlalu cepat terekspos.
Espresso store yang sebenarnya nyaman bisa mulai terasa “biasa saja” hanya karena orang sudah terlalu sering melihat video tentang tempat itu. Makanan yang sebenarnya enak bisa mulai terasa kurang menarik karena fotonya sudah muncul di mana-mana sebelum kita sempat mencobanya sendiri. Web membuat pengalaman terasa cepat basi.
Orang Tidak Mau Terlihat Terlalu Ikut Hype

Budaya web juga membentuk cara orang menunjukkan selera. Banyak orang ingin terlihat punya opini sendiri dan tidak terlalu mudah ikut arus. Saat semua orang mengatakan sebuah tempat bagus, sebagian orang justru terdorong mengambil posisi sebaliknya. Mereka merasa lebih nyaman berkata “sebenarnya biasa aja” atau “menurutku overrated.”
Komentar seperti ini kadang bukan murni soal kualitas tempatnya. Ada dorongan untuk menunjukkan bahwa kita tidak terlalu mudah terbawa hype publik. Web membuat opini menjadi bagian dari identitas. Orang tidak hanya datang ke tempat viral untuk menikmati tempatnya, tetapi juga ingin punya posisi terhadap hype itu sendiri.
Dopamine Tradition Membuat Orang Cepat Bosan
Media sosial membuat otak terus menerima stimulasi baru setiap hari. Tempat baru muncul terus, tren aesthetic berubah cepat, menu viral berganti hampir setiap minggu, dan timeline dipenuhi rekomendasi yang datang tanpa jeda. Otak akhirnya terbiasa dengan rasa excited yang instan.
Sesuatu yang memberi pleasure cepat biasanya juga cepat kehilangan efeknya. Orang belum sempat benar-benar menikmati satu hal, perhatian mereka sudah pindah ke hal berikutnya. Hari ini orang rela antre panjang demi mencoba satu tempat, dua minggu kemudian mereka sudah mencari tempat baru untuk diposting lagi. Tempat yang kemarin terasa sangat menarik tiba-tiba terlihat biasa saja.
Fenomena ini dekat dengan dopamine tradition. Web membuat orang terus mengejar rasa baru. Saat semuanya harus terasa menarik, rasa kagum jadi semakin pendek umurnya.
Ekspektasi Web Sering Terlalu Tinggi
Konten di media sosial jarang menampilkan pengalaman yang biasa-biasa saja. Creator biasanya menampilkan visible terbaik, menu terbaik, angle terbaik, dan suasana terbaik dari sebuah tempat. Audiens akhirnya membangun ekspektasi yang sangat tinggi bahkan sebelum datang langsung.
Saat pengalaman nyatanya tidak sekuat bayangan yang sudah dibentuk web, rasa kecewa mudah muncul. Tempatnya bagus, tetapi tidak terasa mengubah pengalaman hidup. Kopinya enak, tetapi tidak sampai se-wow yang dibayangkan setelah melihat puluhan video. Semakin besar hype yang dibangun media sosial, semakin besar kemungkinan orang merasa pengalaman nyatanya tidak memenuhi ekspektasi.
Kata “Overrated” Sekarang Dipakai Terlalu Cepat
Kata overrated sekarang sering berubah menjadi respons otomatis terhadap sesuatu yang terlalu ramai. Orang bisa langsung menyimpulkan hanya dari satu kunjungan, satu menu, atau bahkan hanya dari rasa bosan melihat kontennya terus-menerus. Padahal tidak semua hal harus terasa luar biasa untuk bisa dianggap bagus.
Ada tempat yang kekuatannya ada pada suasana, bukan kejutan. Ada makanan yang dibuat nyaman dinikmati, bukan untuk memberi sensasi ekstrem. Ada espresso store yang menarik karena ritmenya tenang, bukan karena harus langsung memberi efek “wow” dalam satu tegukan. Web membuat orang semakin sulit menikmati sesuatu secara pelan. Semua terasa harus spesial, harus unik, dan harus bisa memberi reaksi instan. Saat efek itu tidak muncul, label overrated cepat sekali keluar.
Model Sekarang Harus Menghadapi Publik yang Cepat Jenuh

Dari sisi branding, ini menjadi tantangan besar. Dulu model mungkin hanya perlu memikirkan bagaimana caranya viral. Sekarang viral saja tidak cukup. Model juga harus memikirkan bagaimana menjaga agar publik tidak terlalu cepat lelah melihat mereka.
Terlalu sering muncul bisa membuat audiens jenuh. Terlalu banyak creator membahas hal yang sama bisa membuat orang merasa dipaksa tertarik. Sesuatu yang terlalu dipromosikan justru lebih mudah memancing resistensi. Model akhirnya perlu lebih hati-hati menjaga ritme eksposur. Mereka perlu tahu kapan harus muncul dan kapan harus memberi ruang agar publik tetap punya rasa penasaran.
Orang Sebenarnya Tidak Membenci Hal yang Viral
Banyak orang sebenarnya tidak membenci sesuatu hanya karena viral. Yang membuat lelah sering kali adalah paparan yang terlalu terus-menerus. Saat satu tempat muncul di semua platform dalam waktu bersamaan, publik merasa tidak punya ruang untuk menemukan sesuatu secara alami. Semua terasa seperti sedang berlomba menjadi hype berikutnya.
Label overrated sering menjadi bentuk kelelahan terhadap web itu sendiri. Orang tidak selalu sedang menilai kualitas secara utuh. Kadang mereka hanya sedang mengatakan bahwa mereka sudah terlalu sering melihat hal yang sama.
Web Membuat Kita Cepat Kagum dan Cepat Lelah
Ritme web hari ini membuat rasa penasaran bergerak sangat cepat. Kita bisa sangat tertarik pada sesuatu dalam waktu singkat, lalu kehilangan rasa tertarik hanya beberapa minggu kemudian. Timeline terus bergerak, tren terus berganti, dan hal baru terus datang tanpa jeda.
Sesuatu sekarang tidak hanya harus bagus. Ia juga harus mampu bertahan dari rasa bosan publik yang datang jauh lebih cepat dibanding dulu. Itulah kenapa orang sekarang semakin mudah bilang overrated. Tempatnya belum tentu jelek, produknya belum tentu buruk, publiknya saja yang sudah terlalu sering melihatnya sebelum benar-benar sempat menikmatinya.


