Tuesday, May 26, 2026
spot_img

Ketika Kopi Susu Baru Selalu Dibilang “Mirip Model Jakarta”


Beberapa hari terakhir, linimasa saya cukup sering lewat pembahasan soal kopi susu yang lagi ramai di Palembang. Lucunya, yang paling sering dibahas bukan rasa kopinya enak atau tidak, melainkan komentar seperti, “eh ini mirip banget sama kopi susu yang di Jakarta.”

Awalnya saya menganggap itu hal biasa. Memang hampir semua produk baru sekarang cepat sekali dibanding-bandingkan. Namun makin dipikir, sebenarnya menarik juga melihat bagaimana orang menilai sebuah model, terutama di industri kopi yang sekarang pemainnya makin banyak dan tampilannya mulai terasa seragam.

Kadang saya merasa, publik sekarang bukan lagi mencari kopi yang paling berbeda. Mereka justru mencari sesuatu yang terasa acquainted.

Orang Memang Suka Membandingkan Sesuatu dengan yang Sudah Dikenal

Kalau dipikir-pikir, kita memang sering begitu. Saat mendengar lagu baru, kita spontan bilang mirip penyanyi tertentu. Saat melihat tempat nongkrong baru, kita juga cepat menghubungkannya dengan tempat lain yang lebih dulu terkenal.

Kopi pun sama.

Daripada menjelaskan rasa kopi secara element, orang biasanya lebih mudah berkata, “rasanya kayak model anu.” Cara seperti itu lebih cepat dipahami. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal rasa creamy, tingkat pahit, atau aroma kopinya seperti apa.

Karena itu saya rasa, komentar “mirip model Jakarta” sebenarnya bukan selalu berarti negatif. Kadang itu cuma cara paling sederhana untuk menjelaskan pengalaman yang baru mereka rasakan.

Model Besar Sudah Lebih Dulu Menanamkan Standar

Menurut saya, ini terjadi karena beberapa model kopi besar sudah terlalu kuat di kepala publik. Mereka hadir lebih dulu, cabangnya ada di mana-mana, visualnya konsisten, dan promosinya terus muncul setiap hari di media sosial.

Lama-lama orang punya gambaran sendiri tentang seperti apa kopi susu fashionable itu.

Cup-nya seperti apa. Rasanya seperti apa. Suasana tokonya seperti apa. Bahkan gaya promosinya pun mulai terasa acquainted.

Jadi ketika ada model baru yang masuk dengan pendekatan yang kurang lebih mirip, publik otomatis menghubungkannya ke referensi yang sudah mereka kenal lebih dulu.

Padahal bisa saja sebenarnya berbeda. Hanya saja otak manusia memang lebih cepat mengenali pola dibanding mencoba memahami semuanya dari awal.

Kadang yang Terasa Mirip Bukan Cuma Rasanya

Yang menarik, saya merasa persepsi mirip sering kali bukan cuma soal isi gelasnya.

Kadang orang merasa sebuah model mirip karena warna kemasannya, desain logonya, bentuk cup-nya, atau cara mereka membuat konten di media sosial. Bahkan suasana outlet pun bisa ikut memengaruhi.

Ada banyak espresso store sekarang yang sama-sama memakai nuansa minimalis, warna hangat, desain bersih, dan gaya komunikasi santai khas anak muda kota besar. Tidak salah memang, karena tren industrinya memang bergerak ke sana. Namun akibatnya, batas antarbrand jadi terasa tipis.

Akhirnya ketika ada kopi baru muncul, orang lebih mudah berkata “mirip model itu” dibanding mengingat identitasnya sendiri.

Di Satu Sisi Ini Bagus untuk Model Baru

Kalau dipikir dari sisi bisnis, sebenarnya persepsi seperti ini bisa membantu model baru.

Karena publik sudah punya referensi rasa di kepala mereka, proses untuk membuat orang mencoba jadi lebih mudah. Orang merasa tidak asing. Ada rasa aman karena mereka merasa sudah punya bayangan tentang produk yang akan dibeli.

Makanya kadang produk yang terasa acquainted justru lebih cepat diterima pasar dibanding produk yang terlalu aneh atau terlalu berbeda.

Apalagi untuk bisnis kopi susu yang goal pasarnya luas. Familiaritas memang sering menjadi pintu masuk.

Tapi Ada Risiko yang Sering Tidak Disadari

Masalahnya, kalau sebuah model terlalu lama dikenal karena “mirip model lain”, lama-lama identitasnya bisa tenggelam. Orang datang karena penasaran, bukan karena benar-benar mengingat model tersebut.

Ini yang menurut saya cukup penting dibedakan. Viral belum tentu punya ikatan. Ramai belum tentu benar-benar diingat. Model yang kuat biasanya punya satu hal yang langsung muncul di kepala orang tanpa perlu dibandingkan dulu.

Kadang bukan sesuatu yang besar. Bisa saja hanya dari nama menu, cara mereka membalas pelanggan, cerita di balik model, atau suasana kecil yang terasa khas. Hal-hal seperti itu kelihatannya sederhana, tetapi justru sering menjadi alasan kenapa orang akhirnya balik lagi.

Model Lokal Sebenarnya Punya Kesempatan Besar

Menurut saya, kota seperti Palembang justru punya peluang besar untuk membangun identitas model yang kuat. Palembang punya karakter sendiri, selera sendiri, dan cara menikmati kopi yang juga berbeda dengan kota lain.

Karena itu saya rasa model lokal sebenarnya tidak perlu terlalu sibuk mengejar kesan “seperti model ibu kota.” Justru akan lebih menarik kalau mereka mulai membangun karakter yang terasa lebih dekat dengan kotanya sendiri.

Tidak harus ekstrem. Tidak harus sepenuhnya berbeda. Kadang cukup punya satu hal kecil yang benar-benar melekat di kepala orang. Pada akhirnya, orang mungkin datang pertama kali karena penasaran. Namun mereka bertahan karena merasa punya kedekatan dengan model tersebut.

Tujuan Akhirnya Bukan Lagi Dibandingkan

Saya rasa wajar kalau di awal sebuah model baru masih dibandingkan dengan model yang lebih besar. Itu hampir terjadi di banyak industri. Namun dalam jangka panjang, tujuan sebuah model seharusnya bukan terus-menerus dianggap mirip dengan orang lain.

Tujuan akhirnya adalah ketika orang mulai menyebut namanya sendiri tanpa perlu pembanding. Bukan lagi, “yang mirip model Jakarta itu.” Melainkan langsung, “ayo beli di sana.”

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest Articles